Pertama dan terpenting, pemilihan bahan yang tepat merupakan salah satu aspek desain paling penting yang menjamin produk bedah memenuhi standar sanitasi ruang operasi yang ketat. Produk bedah berkualitas harus terbuat dari bahan yang tidak berpori, tahan terhadap disinfektan kimia, serta mampu menjalani metode sterilisasi seperti autoclaving, perlakuan gas etilen oksida, dan radiasi UV secara berulang. Instrumen bedah, misalnya, dapat dibuat dari baja tahan karat kelas medis, yang mampu mempertahankan struktur fisiknya melalui banyak siklus sterilisasi, serta tidak menjadi tempat berkembang biak bakteri dan patogen. Sarung tangan bedah sekali pakai dan penutup meja operasi dapat terbuat dari lateks dan polipropilena yang mudah dibuang setelah digunakan namun tetap melindungi dari cairan dan kontaminan dari pasien. Produk bedah lainnya di ruang operasi memiliki tingkat sanitasi ekstra sejak awal, berkat penekanan pada ilmu material. Memilih bahan yang tepat dalam mendesain produk bedah yang memenuhi standar sanitasi merupakan bentuk utama dari prioritisasi keselamatan pasien.
Patogen seperti bakteri dan virus dapat menempel pada sambungan dan permukaan kasar di alat bedah. Karena bahaya yang ditimbulkan oleh penempelan tersebut, produk bedah dirancang sedemikian rupa untuk mencegah keberadaan area semacam ini sebisa mungkin. Desain seperti gunting bedah dan pinset yang terbuat dari satu kesatuan dan dipoles hingga mengilat, serta laparoskop dengan permukaan halus yang mudah dibersihkan, menunjukkan perhatian terhadap minimnya tempat persembunyian bagi patogen di permukaan peralatan bedah. Karena penggunaan teknik tenun kain inovatif tanpa ujung yang terurai, jubah bedah sekali pakai juga tidak memiliki tempat persembunyian semacam itu. Secara bersamaan, permukaan tenunan yang halus dan tanpa sambungan pada jubah sekali pakai serta alat bedah yang dirancang dengan cermat memungkinkan pembersihan dan desinfeksi produk bedah menjadi lebih mudah, karena tidak ada tempat bagi patogen untuk bersembunyi.
Meskipun desain ergonomis paling dikenal karena kenyamanan dan efisiensinya, desain ini juga penting bagi sanitasi alat bedah. Desain yang seimbang dengan baik berarti instrumen bedah pas digenggam dan mudah dikendalikan. Desain ini mengurangi risiko tergelincir dan, akibatnya, mengurangi risiko kontaminasi melalui kontak dengan permukaan yang tidak steril. Selain itu, pegangan yang dirancang khusus agar tidak menahan sisa kotoran membantu staf mempertahankan cengkeraman yang kuat, sekaligus memungkinkan mereka menjaga kebersihan. Desain ergonomis, misalnya, berarti pegangan pisau bedah mengikuti kelengkungan alami tangan dengan pegangan traksi yang tahan darah dan cairan. Desain ergonomis juga berarti perakitan dan pembongkaran menjadi lebih mudah untuk alat bedah yang dapat digunakan kembali. Perangkat yang dapat dilepas dengan cepat dan mudah tidak hanya lebih gampang dibersihkan, tetapi juga dapat disterilisasi secara menyeluruh, sehingga mengurangi risiko kontaminasi. Bahkan alat bedah sekali pakai pun dirancang secara ergonomis, seperti masker bedah dengan klip hidung yang dapat disesuaikan, pengikat elastis untuk telinga, serta tali untuk telinga yang membantu menciptakan penghalang kuat terhadap udara tak tersaring yang masuk ke area bedah.
Desain ergonomis memungkinkan produk bedah menjadi efisien dan mudah digunakan, sambil tetap higienis serta memenuhi persyaratan ketat ruang operasi.
Setiap kali produk bedah baru dikembangkan, salah satu persyaratan desain utama adalah kompatibilitas dengan berbagai metode sterilisasi yang digunakan di ruang operasi. Setiap jenis teknik sterilisasi memerlukan sifat desain, material, dan struktural yang berbeda. Jika suatu produk tidak mampu menahan proses sanitasi tertentu, maka produk tersebut tidak akan memenuhi standar sanitasi. Sebagai contoh, produk yang dirancang untuk autoclaving harus mampu menahan suhu dan tekanan tinggi tanpa meleleh, melengkung, atau mengeluarkan asap beracun. Instrumen bedah dari titanium kelas medis merupakan contoh produk yang memenuhi kriteria ini karena sangat tahan panas dan tentu saja tidak gagal pada kualitas bedah—titanium ini memang tahan panas. Di sisi lain, aksesori bedah tertentu, seperti beberapa instrumen plastik, dirancang agar kompatibel dengan sterilisasi gas etilen oksida, yaitu teknik sterilisasi yang membunuh semua patogen tanpa merusak bahan lainnya. Produk bedah yang kompatibel dengan sterilisasi, seperti endoskop, sering kali dirancang agar kompatibel juga dengan disinfeksi tingkat tinggi serta bentuk sterilisasi lainnya tergantung pada penggunaannya. Fitur desain lainnya, seperti lubang drainase pada instrumen bedah berongga, ditambahkan untuk memastikan agen sterilisasi dapat menjangkau semua permukaan internal. Dengan memastikan kompatibilitas dengan metode sterilisasi umum, para perancang produk bedah menjamin bahwa produk-produk ini dapat didekontaminasi secara tepat dan oleh karenanya aman digunakan di lingkungan steril dalam ruang operasi.
Dengan mempertimbangkan kebutuhan sanitasi, pilihan untuk merancang produk yang dapat dibuang atau digunakan kembali dapat memiliki berbagai dampak terhadap sanitasi produk tersebut. Produk sekali pakai dirancang untuk penggunaan tunggal dan dibuang setelah digunakan, sehingga menghilangkan kemungkinan kontaminasi silang akibat penanganan pembersihan atau sterilisasi yang tidak memadai. Produk yang dapat digunakan kembali, di sisi lain, dirancang untuk penggunaan jangka panjang dan memerlukan konstruksi yang tahan terhadap banyak proses sterilisasi. Produk sekali pakai terbuat dari bahan ringan, murah, dan higienis yang tetap layak hingga dibuang. Kedua pilihan memiliki elemen desain sanitasi masing-masing, karena sanitasi merupakan salah satu aspek utama yang harus dipertimbangkan dalam perancangan setiap produk yang akan digunakan di ruang operasi.
Desain yang disesuaikan ini memastikan semua produk bedah menciptakan dan mempertahankan kondisi bersih serta steril, bahkan untuk produk yang hanya digunakan sekali.
Sebagai penutup, semua fitur desain perangkat bedah diatur oleh kriteria badan regulasi seperti FDA, Uni Eropa, dan ISO. Kriteria Standar Regulasi yang harus diterapkan oleh para perancang produk bedah dalam karya mereka adalah lingkup sanitasi dan keamanan bahan serta kinerja. Sebagai contoh, standar regulasi dapat menentukan jumlah bakteri yang diizinkan yang dapat terdapat pada produk bedah setelah sterilisasi. Selain itu, bahan-bahan yang dianggap aman untuk kontak dengan tubuh juga dinyatakan secara jelas. Para perancang bekerja sama dengan otoritas regulasi untuk memenuhi standar tersebut melalui pengujian yang memadai terhadap klaim sanitasi yang mereka ajukan. Kepatuhan ini merupakan janji sekaligus kewajiban hukum kepada pengguna produk bedah, tenaga praktisi kesehatan, dan pasien bahwa produk bedah tersebut aman dan higienis. Sebagai contoh, implan bedah dirancang dengan fitur-fitur yang mendorong tubuh untuk berintegrasi dengan implan sambil menghalangi masuknya bakteri. Intervensi dalam desain dengan menerapkan standar regulasi secara baku membuat produsen produk bedah wajib mematuhi peraturan guna menjamin prosedur bedah yang aman dan berhasil.